Setiap hari adalah hari yang penting. Berbeda dan masing-masing punya bobot sendiri. Bahkan setiap waktu dalam satu hari saja mempunyai nuansa yang berbeda dan menghasilkan mood yang berbeda pula. Efek kecil di pagi hari, atau di kemarin hari, baik itu merupakan berita gembira maupun hanya karena salah memakai warna baju, bisa mempengaruhi mood sepanjang hari kita. Itu bisa terjadi pada siapa saja.
Pernah membayangkan keseharian orang lain bagaimana? Terdengar ingin tahu mungkin. Tapi coba bayangkan, dari orang terdekat seperti adik ataupun teman kerja di sebelah kubikel kita, bahkan orang di belahan dunia lain yang memiliki pekerjaan 180 derajat berbeda dengan kita. Menggembala kambing misalnya. Pastinya berbeda sama sekali. Dari kegiatan, cara pandang, tempat tinggal, gaya berpakaian, ketakutan sampai harapan akan sesuatu.
Life in Day, merupakan sebuah film dokumenter yang berusaha merangkum keseharian manusia dari belahan bumi mana saja dalam waktu 95 menit. Proyek kerja sama antara Youtube dengan National Geographic yang diselenggarakan secara serentak di tanggal 24 Juli 2010. Menceritakan dengan gamblang melalui 4500 jam footage yang diterima oleh hampir sebanyak 80.000 pengirim via youtube.
Cerita mengalir dengan manis. Dari hal yang menyentuh hati seperti kasih sayang seorang Ayah yang menunggu kelahiran anak pertamanya, sampai hal getir seperti jerih payah seorang keluarga yang berusaha memenuhi kebutuhan hidup anaknya yang berjumlah 12 orang. Tercampur baur antara hal yang menyenangkan, membuat kagum, bahkan yang mengiris hati sekalipun. Seakan tidak mengizinkan kita untuk menarik napas sejenak untuk mengusap air mata yang menetes tiba-tiba, untuk menggantikannya dengan seiris senyum di bibir.
Anggap saja ini sebuah review asal-asalan Life in A Day. Jangan berkomentar sampai anda menonton film ini sampai habis. Yang tersisa di penghujung film cuma satu, rasa bersyukur teramat sangat karena telah mempunyai kehidupan yang begitu menyenangkan seperti yang kita jalani sekarang ini. Bahkan hal kecil yang dialami kita sehingga membuat tersenyum sekalipun, mungkin adalah hal besar yang ditunggu-tunggu orang lain hingga di umurnya yang sudah senja, tak kunjung tiba.
Harus bisa bersyukur dengan yang kita punya sekarang ya :)

The Perfect House
Satu lagi film horor indonesia yang layak tonton, The Perfect House. Sudah lama saya menantikan film ini ditayangkan, tergelitik oleh promo yang dilakukan oleh Joko Anwar di akun twitternya. Ditambah dengan melihat trailernya, seakan menambah keingintahuan yang makin menggoda.
Cerita berawal dari seorang guru privat bernama Julie (Cathy Sharon) yang ditugaskan secara mendadak untuk mengajar seorang anak bernama Januar (Endy Arfian), dikarenakan guru privat sebelumnya menghilang begitu saja. Akhirnya guru cantik ini menerima tawaran pekerjaan ini, walaupun terpaksa menginap di rumah anak didiknya dikarenakan lokasi rumah yang terpecil di kawasan Puncak.
Januar anak laki-laki yang sopan, manis dan cerdas. Setiap pelajaran yang diberikan oleh Julie mampu diselesaikan dengan cepat oleh Januar. Mudah sekali jika membuat orang menyayangi Januar yang manis ini. Termasuk Julie, dia sangat menyayangi Januar.
Sayangnya perlakuan nenek Januar, Madam Rita (Bella Esperance) sangat aneh. Sikap disiplin yang terlalu berlebihan ditambah dengan kebiasaan menggembok pintu keluar rumah ketika sang nenek pergi dengan alasan untuk kebaikan Januar. Tentunya hal ini membuat Julie jengkel setengah mati. Bagaimana bisa sang nenek bersikap kejam terhadap cucunya yang manis ini. 
Hingga suatu hari, Julie menemukan hal-hal yang mencurigakan baik di dalam maupun di sekitar rumah. Salah satunya adalah barang milik Lulu, guru privat Januar sebelumnya yang dikabarkan hilang tak menentu. Penemuan mencurigakan itu mengarah kepada penemuan lain yang tak hanya membuat Julie shock, tapi juga takut dan ingin cepat-cepat menyelamatkan dirinya dan Januar keluar dari rumah itu. 
Film bergenre psycho-thriller ini mengandalkan kekuatan narasi yang membangun mood seram di setiap scenenya. Puzzle yang tercipta dalam cerita mengajak penonton untuk berpikir dan berperilaku layaknya detektif, menebak-nebak alur cerita. Ditambah dengan setting rumah tua dengan perabot klasik yang menambah suasana seram. Seakan rumah tersebut turut menyembunyikan rahasia seram di dalamnya. Dari segi lighting dan penempatan scoring yang pas juga turut membuat detak jantung penonton semakin berdebar.
Akting para pemain di dalamnya tak kalah mendukung film ini menjadi semakin mencekam. Bella Esperance bermain dengan cemerlang. Dengan cerdas menggambarkan seorang nenek yang disiplin, gila kebersihan dan memperhatikan segala letak perabot rumahnya dengan detil. Mungkinkah dia mengidap obsessive compulsive disorder? Belum lagi Yadi (Mike Lucock), tangan kanan Madam Rita, yang sepanjang film dapat menciptakan ekspresi ‘tanpa ekspresi’. Hal ini malah membuat dia sukses menciptakan aura pria berdarah dingin yang mengerikan. Sedangkan Endy Arfian dan Cathy Sharon? Akting yang cukup lumayan bagi pendatang baru di dunia perfilman. 
Sayangnya puzzle dibuat tanggung. Terlalu banyak clue yang bertebaran di sana-sini. Dari percakapan yang dilakukan berulang-ulang dan adanya scene yang saya anggap kurang penting, yaitu mengambil gambar salah satu tersangka yang diduga sebagai penjahat. Diperlihatkan secara terang-terangan sedang duduk dengan tenangnya sambil menyesap secangkir teh di saat sedang terjadi peristiwa menyeramkan. Membuat saya yang memang hobi menonton horor dapat menebak endingnya bagaimana. Mungkin next time, sang sutradara yaitu Affandi Abdul Rachman, jangan terlalu murah membagi-bagikan clue di dalam film ya hehehe :)

Perjuangan menuju ilmu pengetahuan

Ada yang pernah mendengar nama Liz Murray? Sebuah nama yang pernah mencuat di tahun 2000 atas keberhasilannya memenangkan beasiswa yang diberikan oleh New York Times. Beasiswa mungkin sudah biasa, tapi yang membuat hal itu spesial adalah perjalanan seorang tuna wisma untuk mendapatkan beasiswa tersebut.

Ya, film ini diangkat dari kisah nyata. Cerita hidup seorang Liz Murray dari kecil dan bagaimana usahanya untuk mewujudkan impiannya mengenyam pendidikan sekolah seperti layaknya anak dari keluarga normal. 

Liz Murray (Thora Birch) lahir dari keluarga miskin dimana kedua orangtuanya merupakan pecandu narkoba. Liz kecil tidak pernah didampingi orang dewasa yang benar-benar bertanggung jawab. Sehingga dia menganggap bahwa sekolah tidaklah penting. Ditambah dengan kesulitan dia dalam berinteraksi dengan teman sebayanya.

Ketika sang Ibu kembali dari pusat rehabilitasi narkoba, Liz berharap hidupnya akan kembali normal dengan anggota keluarga lengkap yang berkumpul kembali. Sehingga mereka bisa hidup bahagia seperti dulu. Tak disangka, sang Ibu memutuskan untuk tinggal bersama Kakeknya yang terkenal suka melakukan kekerasan seksual terhadap Ibunya. 

Masalah lain muncul. Liz kecil diangkut pergi oleh dinas kesejahteraan anak untuk tinggal di rumah penampungan anak. Setelah adanya laporan dari guru sekolah karena absennya Liz dari sekolah. Pemerintah ikut campur karena menganggap orangtua Liz tidak bisa mengurus anaknya sendiri.

Diumur yang ke 15, Liz remaja yang keluar dari penampungan pun bergabung untuk tinggal bersama ibunya. Tapi yang dia temui hanyalah sang Ibu yang berubah menjadi pemabuk. Sementara kesehatan Ibu pun mulai memburuk. Rasa sayang Liz akan Ibunya tidak cukup untuk membuat sang Ibu berhenti menjadi pemabuk. Sementara kakek Liz yang tidak bisa mengontrol emosinya, hanya memperparah keadaan dengan memukuli Liz.

Akhirnya diumur yang muda itu Liz memutuskan menjadi seorang tunawisma. Lebih baik hidup bebas daripada terkekang dibawah siksaan sang kakek. 

Titik balik kehidupannya adalah ketika dia mengetahui kematian Ibunya. Hatinya yang sedih dan merasa tak ada tempat berlindung seakan menyadarkan dia untuk mengubah hidupnya. Jalan keluar dari kehidupan yang menyedihkan hanya satu, mengenyam ilmu pengetahuan setinggi-tingginya agar bisa menjadi orang yang berhasil. Masih dalam keadaan tunawisma, dia pun berusaha untuk bergabung pada community school untuk menyelesaikan SMU hanya dalam jangka waktu 2 tahun. Dengan otak cemerlang yang dimilikinya, tak hanya SMU, dia juga mendapatkan beasiswa untuk kuliah di Harvard dari New York Times.

Walaupun film ini hanya diproduksi untuk konsumsi film tv, tetapi pesannya benar-benar tersampaikan dengan baik. Bukan hanya itu, akting Thora Birch sebagai Liz remaja patut diperhatikan. Dengan cerdas dia dapat menampilkan Liz remaja yang sedang labil dalam menentukan hidupnya. Mimik wajah dan gerak-gerik Thora Birch yang diperlihatkan seakan membawa penonton ikut merasakan kegundahan hati yang dirasakan oleh Liz.

Setelah menonton film ini, hanya satu yang saya rasakan. Terharu dan malu. Kalau seorang Liz saja bisa menggapai mimpinya dengan meneruskan kuliah sampai akhirnya jadi seorang inspirational speaker ternama, lalu kenapa saya tidak?

Jangan sampai keadaan membatasi kita untuk mewujudkan mimpi menjadi kenyataan. Terus berusaha yuk dan yakin pasti bisa :)

need to find VELVET GOLDMINE dvd soon!

Even toothfairy can be bad

Ucapkan selamat datang kembali pada fim horor yang old fashioned. Film horor yang diisi dengan mansion tua nan cantik berdekorasi gothic, anak kecil yang terabaikan, orangtua yang sibuk dengan pekerjaan, dan teror dari mahluk misterius jaman kegelapan. Kombinasi dari itu semua yang membangun atmosfir misterius mampu menciptakan mood yang secara bertahap membangun kengerian itu sendiri.

Diawali dengan perjalanan seorang anak bernama Sally (Bailee Madison) mengunjungi ayahnya, Alex (Guy Pearce) di kediaman barunya. Sesampainya disana ternyata ia menemui ayahnya bersama pacar barunya, Kim (Katie Holmes), dan rumah baru kediaman ayahnya yang megah bak kastil bernafaskan gothic, Blackwood Mansion. Tak hanya itu, ia dihadapkan oleh kenyataan pahit bahwa kunjungan ini merupakan kunjungan selamanya, untuk tinggal bersama ayahnya, tanpa diberitahu terlebih dahulu oleh sang ibu.

Merasa dibohongi dan diabaikan, Sally terus berdiam diri. Di dalam kesendiriannya itu dia terganggu oleh bisikan lirih yang terus memanggil namanya. Tak dinyana bisikan lirih itu menuntunnya ke sebuah ruangan basement dengan pintu besi berukir indah yang tersembunyi dibalik tembok kayu selama berpuluh tahun. Ruangan basement yang ternyata merupakan ruang kerja peninggalan Emerson Backwood, sang pemilik terdahulu yang juga merupakan novelis ternama.

Penemuan basement itu membuat Alex dan Kim girang bukan kepalang. Kesempatan untuk mendapatkan harga jual tinggi untuk Blackwood Mansion itu akan semakin terbuka lebar dan tentunya membuat nama Alex sebagai seorang arsitek akan semakin terkenal. Tetapi dibalik itu kejadian misterius mulai muncul satu persatu setelah penemuan basement. Kecelakaan misterius yang dialami oleh salah satu tukang renovasi dan ditambah dengan Sally yang mulai sering melihat bayangan kecil yang mengganggunya setiap malam. Sally yang berusaha menceritakan hal tersebut kepada Alex dan Kim tidak digubris sama sekali. Hal ini membuat Sally makin ketakutan, apalagi menjelang malam.

Film ini merupakan hasil adaptasi dari naskah film untuk televisi tahun 1973 dengan judul yang sama. Hasil kolaborasi antara Guillermo del Toro sebagai produser dan penulis naskah dengan first-time director Troy Nixey. Di film ini banyak ditemukan sentuhan khas Guiilermo del Toro yang bisa dijumpai di film-filmnya yang lain. Seperti pilihan mansion tua nan cantik berdekorasi gothic, permainan cahaya sepanjang film yang mendukung, mood kengerian yang dibangun secara bertahap, ditambah dengan scene kekerasan yang ngilu mengiris hati. Belum lagi cerita yang berkaitan dengan fairytale yang menyeramkan. Hal ini mampu membuat penggemar film horor seperti saya bergidik.

Sayangnya hal ini tidak didukung oleh permainan akting sang pemain di dalamnya. Usaha Bailee Madison menciptakan ekspresi kengerian di wajahnya ketika berhadapan dengan mahluk misterius acapkali gagal. Ditambah dengan emosi yang menunjukkan kekesalan akibat diabaikan oleh orangtuanya terkesan sambil lalu. Yang tersisa hanyalah anak kecil tengil yang teriak-teriak ketakutan setiap malam. Sementara akting Katie Holmes sendiri tidak membantu. Setiap kali ekspresi simpati yang seharusnya diberikan kepada Bailee, lewat begitu saja. Seakan menekankan bahwa Katie hanyalah tambahan untuk pemanis dalam film ini. Sedangkan Guy Pearce? Ah disini Guy Pearce bermain aman, toh film ini seharusnya didominasi oleh kedua gadis diatas, Bailee Madison dan Katie Holmes.

Terlepas dari itu semua, Don’t Be Afraid Of The Dark merupakan film horor yang cukup bagus. Apalagi bagi penggemar film horor yang rindu dengan horor old fashioned seperti ini. Dengan sentuhan khas Guillermo del Toro yang menjaga alur film agar tetap menarik dan mencekam, ditambah twist mengejutkan yang menanti di penghujung cerita. Lumayan untuk menghibur hari anda dengan teror dari toothfairy yang jahat.

"One picture can change the world"

Sebuah film yang diangkat dari kisah nyata hasil garapan Steven Silver. Mengisahkan tentang empat orang fotografer perang yang mengadu nasib di kancah perang saudara yang sedang berkecamuk di Afrika Selatan. Mereka saling berlomba mengumpulkan foto terbaik yang dapat menceritakan lewat gambar apa yang terjadi pada perang tersebut. Tanpa takut, berlomba dengan waktu dan mengandalkan keberanian untuk mencapai tujuan. Menangkap satu gambar di momen yang tepat.

Greg Marinovich (Ryan Phillippe), salah seorang fotografer lepas yang mencoba mengadu nasib. Dengan nyali yang besar berusaha mendokumentasikan setiap momen yang terjadi di Afrika Selatan. Tanpa sengaja bertemu dengan tiga fotografer kawakan yang bekerja di surat kabar Star yaitu Kevin Carter (Taylor Kitsch), Ken Oosterbroek (Frank Rautenbach), dan Joao Silva (Neels Van Jaarsveld). Berbekal nasehat berharga dari Kevin Carter yang mengatakan bahwa setiap gambar akan terlihat bagus dan punya value lebih jika diambil dari jarak dekat. Untuk itu lupakan lensa panjang. Akhirnya dia memutuskan bermain dengan maut dengan memasuki teritori berbahaya, menangkap momen dalam satu gambar yang bercerita. Berbekal foto yang “bercerita” dia pun diterima bekerja di surat kabar Star.

Seiring berjalannya waktu Greg berhasil mendapatkan penghargaan Pulitzer atas foto yang dia hasilkan. Foto kontroversial bergambar seseorang yang terbakar hidup-hidup akibat siksaan dari empat orang pria yang menyangka bahwa sang korban merupakan pihak lawan mereka. Disusul dengan hasil foto Kevin yang juga mendapatkan penghargaan Pulitzer atas foto seorang anak kecil yang berbadan kurus kering korban kelaparan yang sedang duduk terdiam di tanah diawasi oleh burung nazar yang lapar.

Tetapi perang tetap perang. Hanya orang dengan fisik dan mental yang kuat saja yang bisa tetap bertahan hidup. Dari empat sahabat , hanya dua tersisa yang bisa menulis jurnal sehingga bisa diangkat menjadi satu film ini.

Film yang menguras tenaga dan emosi, untuk orang seperti saya yang tidak tahan melihat adegan penuh darah dan kekejaman tipikal perang. Tanpa berat sebelah dengan membela salah satu pihak dalam perang, film diceritakan dengan netral. Lebih dalam mengupas emosi para fotografer perang yang sedang bekerja. Layak untuk ditonton bagi yang senang dengan dunia fotografi. Sekali lagi, The Bang Bang Club, film dengan rasa independen berbudget Hollywood.

Judul ini saya dapat ketika menonton salah satu episode sitkom How I Met Your Mother. Salah satu sitkom favorit saya, lucu dan memaparkan kejadian yang bisa terjadi di kehidupan sehari-hari. Dekat dengan realita. Ceritanya tentang tokoh utama dalam sitkom itu, Ted, yang diundang mengunjungi rumah mantan gebetannya yang bernama Robin untuk membuat jus. Normalkah mengundang orang membuat jus? Di jam 2 pagi? Antara perempuan dan laki-laki yang pernah punya history? Tentu tidak.

Seperti yang sudah diduga, Ted tidak mendengarkan nasehat temannya. Nasehat temannya yang mengatakan “Hei, nothing good happens after 2 am. Just go home and sleep. Remember, you have a girlfriend”, berlalu begitu saja. Apakah ada hal-hal baik yang terjadi setelah jam 2 pagi? Coba dipikir baik-baik. Emmh…

Seperti kata teman-teman dan ibunya Ted, orangtua saya juga berpikir seperti itu. Sebenarnya saya kurang setuju dengan pendapat orangtua saya. Karena saya menganggap mereka konservatif, masih orang jaman dulu yang ketinggalan jaman. Masih kolot. Padahal anaknya sudah tua kaya gini tapi masih aja dicariin. Jika sudah malam dan belum kelihatan batang hidungnya, sudah dipastikan handphone saya akan berdering tak henti-henti. 

Tetapi seiring berjalannya waktu, bukan hanya orangtua yang melarang, badan pun ikut protes. Bayangkan, baru pukul 10 malam saja mata sudah berat tak karuan. Apakah ini faktor umur? Mungkin saja. Yang pasti jam 2 malam saya sudah menikmati dunia mimpi. 

Tidak seperti saya, Ted tidak mendengarkan nasehat. Dia hanya mengikuti nalurinya saja. Hasilnya adalah, Ted terjebak dalam dua pilihan. Satu sisi dia tidak mau melewatkan kesempatan untuk menghabiskan waktu bersama Robin, tapi di sisi lain dia tidak mau mengkhianati pacarnya. Perbuatannya menyakiti kedua wanita yang disayanginya. Endingnya tentu sudah bisa ditebak dia putus dengan pacarnya, dan Robin pun kecewa dengannya. Ironis ya. Saya cuma bersyukur badan saya yang sekarang akhirnya protes. Kalau tidak kebiasaan pulang pagi dari dulu hanya akan membawa penyakit dan pastinya masalah di masa lalu akan terus menyambung :)

*photo taken from the internet